Tempat Jual laptop di Bojongsari Depok hub : 081384510779

bagi anda yang memiliki laptop tidak terpakai, ingin tukar tambah laptop, laptop anda bermasalah, laptop anda terlalu tua/kuno dan ingin dijual dan anda berada di daerah Bojongsari Depok. anda dapat menghubungi 081384510779 (Call/sms/whatsapp) kami menerima berbagai jenis laptop mulai dari merek acer, lenovo, asus, dell, serta MACBOOK. jadi bagi anda yang berada di daerah Bojongsari Depok segera hubungi kami sekarang juga di 081384510779(Call/sms/whatsapp)

Tempat Jual laptop di sukamaju, depok hub : 081384510779
Tempat Jual laptop di leuwinanggung, depok hub : 081384510779 Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan melimpah, namun potensi besar ini masih kurang diberdayakan oleh masyarakatnya. Kondisi masyarakat Indonesia yang unik membuat para penyelenggara pendidikan harus dapat membuat pola yang lebih fleksibel terhadap karakteristik pesertanya.
Seperti kita ketahui bersama, saat ini Indonesia memiliki berbagai macam persoalan pada bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Hingga lima tahun belakangan ini, indeks pembangunan manusia Indonesia terus menurun. Pada tahun 1995, Indonesia menduduki peringkat ke 104 dunia jauh di atas Vietnam yang saat itu berada di peringkat 120 dunia. Ironisnya, dalam tahun 2005 peringkat Indonesia merosot ke urutan 110 dunia sedangkan Vietnam naik menjadi peringkat 108 dunia.[1] Hal ini merupakan masalah yang harus segera ditangani bersama dan membutuhkan solusi yang konkrit untuk menanggulanginya.
Solusi konkrit bisa dimulai dari hal-hal yang mendasar dalam kehidupan seperti perekonomian. Perekonomian dianggap menentukan berdaya atau tidaknya seseorang dalam masyarakat. Namun, pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan sendiri tanpa diringi pembangunan dalam bidang pendidikan, karena pendidikan merupakan basis peningkatan kualitas hidup manusia. Pendidikan disini tidak selalu mengacu kepada pendidikan formal, akan tetapi bisa dilaksanakan kapan saja dan dimana saja sesuai konteks dan latar dari pebelajar.
Beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah sedang gencar menggalakkan UKM (Unit Kegiatan Masyarakat) kecil. Karena unit kegiatan kelompok usaha kecil, menengah, dan koperasi merupakan wujud kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia. Keberadaan kelompok ini tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan perekonomian secara nasional. Kelompok ini mampu menyerap lebih dari 64 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebesar lebih kurang 58,2% dalam pembentukan Produk Domestika Bruto.[2]
Jumlah kelompok usaha kecil, menengah dan koperasi dan daya serap tenaga kerja yang cukup besar ternyata perkembangannya masih jauh dari yang diharapkan. Kelompok ini hanya selalu menjadi sasaran program pengembangan dari berbagai institusi pemerintah, namun program pengembangan tersebut belum menunjukkan terwujudnya pemberdayaan terhadap kelompok tersebut.[3]
Berangkat dari keadaan ini, divisi pengembangan masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), sebagai salah satu bagian dari elemen masyarakat merasa mempunyai kewajiban untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat umum. Kontribusi nyata itu adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang seluruh program-programnya terangkum dalam proyek Community Development (ComDev). Salah satu daerah yang mereka pilih untuk penggarapan proyek ini adalah Leuwinanggung.
Sesuai dengan namanya, Leuwinanggung terdiri dari dua kata “leuwi” dan “nanggung” (jadi memang benar-benar tanggung posisinya). Secara administratif, Leuwinanggung berada dalam kotamadya Depok. Namun secara umum kondisinya sangat jauh berbeda dengan dua wilayah yang mengelilinginya yaitu Bekasi dan Depok. Menurut data kependudukan Kotamadya Depok, masyarakat Leuwinanggung termasuk ke dalam kategori masyarakat miskin kota, karena pendapatan perkapita mereka sangat rendah. Kondisi ini diperparah dengan adanya pemekaran wilayah perumahan mewah oleh para developer real estate yang berada di sekitar Lewinanggung, seperti perumahan The Address dan perumahan Bukit Golf. Menurut prediksi tim ComDev, kondisi perekonomian masyarakat Leuwinanggung terancam, karena daerah garapan para petani Leuwinanggung yang selama ini dijadikan sumber pendapatan utama mereka akan terkena imbas dari pemekaran tersebut. Sehingga apabila masyarakatnya tidak segera mencari alternatif matapencaharian, maka beberapa tahun ke depan kondisi perkonomian mereka akan jauh lebih parah.
Salah satu program yang ditawarkan untuk memecahkan masalah ini adalah dengan alternatif Grameen Bank atau Bank Desa, dimana penerapannya berupa pemberian modal usaha tanpa anggunan, penerapan tabungan berjalan, dan penyuluhan perekonomian. Sepintas, program Bank Desa ini seperti pendidikan kewirausahaan, namun tentu saja dalam penyampaian materinya tidak sama dengan penyampaian di dalam kelas formal. Informasi atau pengetahuan yang akan disampaikan disesuaikan dengan karakteristik masyarakat disana.
Program Bank Desa ini telah berjalan hampir setengah tahun, namun dalam pelaksanaannya terdapat tantangan dan hambatan tersendiri, terutama dalam mensosialisasikan atau mendifusikannya kepada masyarakat. Karena program ini termasuk baru dan dianggap bermanfaat bagi masyarakat disana maka bisa dikatakan sebagai bentuk pembaharuan atau inovasi dalam bidang ekonomi.
Teman, sampai dengan paragraf ini saya ingin berbagi lebih banyak tentang kegiatan teman-teman comdev disana. Dari bidang ekonomi, hampir setiap sabtu mereka memberikan pengarahan para ibu rumah tangga yang tidak semuanya mengeyam pendidikan dasar. Ketika pertama kali menginjakan kaki di basecamp tim comdev, hal pertama yang terlintas adalah “ini kan TP banget!”. Disini terkihat dengan jelas banyaknya konsep TP yang diterapkan. Secara garis besar saya bisa mengaitkan dengan beberapa matakuliah yang terdapat di TP, diantaranya adalah: Inovasi dan difusi, pengembangan organisasi belajar, Sistem Terbuka dan Jarak Jauh, pendidikan orang dewasa, kewirausahaan, analisa kebutuhan peserta didik, pelatihan, dan masih banyak lagi.
Dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah disana jauh dari kata-kata prestasi. Bahkan sekedar mengacungkan tangan untuk bertanya pun tak ada. Tak perlu jauh-jauh bicara active learning, guru-guru disana bahkan belum mampu membangkitkan semangat belajar para siswa. Sehingga, masyarakat disana merasa cukup kuliah sampai SMP dan lagi-lagi mengikuti siklus menjadi PRT seperti para orangtuanya. Belum lagi saran dan prasarana sekolah yang pas-pasan. Ah, banyak sekali masalah disana, namun sebagai Tpers kita bisa kan bergerak memperbaiki kurikulum, mengajarkan metode belajar aktif, mendesain rancangan belajar untuk para guru, kan?
Bentuk kerja nyata teman-teman kita dari UI begitu konkrit dan tidak berputar dengan teori-teori saja. Bagaimana dengan kita? Teman, Wilayah TP begitu luas dan bisa diaplikasikan dimana saja, tidak selalu dalam wilayah lembaga pendidikan formal saja, saya yakin para TPers bisa melakukan hal yang sama dengan mereka bahkan lebih baik lagi! Bukan kah TP dibangun dari berbagai ilmu seperti komunikasi, psikologi, manajemen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.