Kisah Unik Mereka yang Lahir di Tahun Kabisat, Ultahnya 4 Tahun Sekali

Annisa Maghfira Herdiyanti lahir pada 29 Februari 1996. (Insert) Annisa saat merayakan ulang tahun untuk kali pertama saat usianya 4 tahun.

Annisa Maghfira Herdiyanti lahir pada 29 Februari 1996. (Insert) Annisa saat merayakan ulang tahun untuk kali pertama saat usianya 4 tahun. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

SOLO – Lahir di tahun kabisat memiliki keunikan. Sebab, si pemilik tanggal lahir 29 Februari itu hanya bisa berulang tahun empat tahun sekali. Berikut kisah-kisah orang yang lahir di tahun kabisat.

Namanya Ferri Mega Nanda. Pada 29 Februari 2020 ini usianya genap 28 tahun. Meski demikian, dia tak selalu bisa merayakan ultahnya. Sebab, tanggal lahirnya itu hanya muncul tiap empat tahun sekali atau sering disebut tahun kabisat.

“Saya lahir Sabtu Pon, 29 Februari 1992. Jadi kalau ditanya umurnya, ya sudah 28 tahun. Tapi kalau merayakan ultahnya, ini baru ultah ke-7,” kelakar dia saat ditemui di SMAN 3 Surakarta, Jumat (28/2) kemarin.

Ferri Mega Nanda pada 29 Februari 2020 ini genap berusia 28 tahun.

Ferri Mega Nanda pada 29 Februari 2020 ini genap berusia 28 tahun. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Guru seni budaya ini pun awalnya tak paham dengan keunikan tanggal lahirnya itu, hingga saat duduk di kelas II SD dia baru mulai memahami soal uniknya tanggal lahir yang muncul empat tahunan itu. Kala itu, Ferri merasa heran karena dia tak serutin kawan sepermainannya saat merayakan ultah. Bahkan dia sempat minder karena ulang tahun kakak dan adiknya pernah dirayakan sementara dia tidak.

“Sempat mikir aneh juga. Sejak TK itu saya sering datang ke ulang tahun kawan saya. Tapi kok saya sendiri tidak pernah ulang tahun. Sempat berpikir negatif juga, apa saya ini anak tiri, karena kakak dan adik saya itu meski sekali ultahnya pernah dirayakan. Ya namanya kan pikiran bocah jadi masih ke mana-mana,” kenang Ferri.

Akhirnya dia memberanikan diri bertanya kepada kedua orang tuanya. Kala itu dia bertanya soal tidak pernah merayakan ulang tahun. Terlepas dari tradisi keluarga yang memang jarang merayakan hari lahir putra putri mereka.

“Kebetulan di keluarga saya memang tidak ada tradisi merayakan ulang tahun. Tapi saya penasaran saja akhirnya saya tanya ke ibu saya. Kok tanggal ulang tahun saya tidak ada. Apa salah catat waktu lahir dulu atau malah kalendernya salah cetak,” pikir anak kedua pasangan Muhammad Baharudin, 54, dan Hari Wahyuni, 53, itu.

Sejak dijelaskan ibunya, Ferri jadi sadar akan uniknya tanggal lahir itu. Apalagi, guru sekolahnya juga pernah memberikan penjelasan soal tahun kabisat yang muncul empat tahun sekali itu. Seiring bertambahnya usia, dia tak begitu menyoalkan perihal tanggal yang tidak tiap tahun muncul.

Ferri tak masalah mendapat ucapan selamat pada 28 Februari atau pada 1 Maret ketika 29 Februari tak muncul dalam tahun itu. “Ternyata hari lahir saya memang tidak biasa, karena tidak tiap tahun ada. Mungkin saja pas mau merayakan keluarga memang lagi butuh hal lain,” papar Ferri.

Di sisi lain, pemberitahuan soal ulang tahun rutin masuk tiap 1 Maret di sejumlah akun media sosial miliknya. Di luar itu, kawan-kawannya biasa mengucap selamat di 28 Februari. Perbedaan ucapan selamat ini membuatnya bisa berdalih ketika ditodong makan-makan oleh sejumlah kawan sepermainannya.

“Nah ini enaknya. Biasanya kalau kawan-kawan minta makan-makan saya bisa beralasan kalau tanggalnya tidak ada kok ulang tahun. Jadi malah bisa ngirit karena nggak jadi makan-makan pas hari itu,” gurau warga Kampung Premulung, Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan itu.

Bukan soal pelit atau tak mau keluar duit. Hanya saja jika memaksakan merayakan ultah selain 29 Februari memang ada yang kurang karena tanggalnya kurang tepat. Namun, kalau bertepatan dengan 29 Februari muncul, dia bisa ditodong merayakan ultah lebih dari sekali.

“Biasanya kalau pas ada tanggalnya ya bakar-bakaran (ikan) sama kawan-kawan. Saya masuk kuliah 2010, rayakan ultah pertama 2012 dan yang kedua 2016,” kata alumus Universitas Sebelas Maret Solo ini.

Lalu bagaimana dengan pacar? Kebetulan dia baru menjalin hubungan selama setahun terakhir ini. Artinya ultah kali ini menjadi momen pertamanya bersama si pujaan hati. Lantas apa momen spesialnya? Karena sudah sama-sama dewasa Ferri tidak terlalu berharap dengan kejutan dari sang pacar. Sekalipun kode dari sang pacar soal kado apa yang diinginkan mulai terlihat sejak beberapa hari sebelumnya.

“Kemarin memang sempat tanya, ya saya jawab saja kalau mau kasih kado ya barang saja yang benar-benar berguna,” kata dia.

Lahir di tahun kabisat baginya adalah sebuah keunikan yang tidak dimiliki banyak orang. Hal inilah yang membuat dia penasaran untuk mengetahui jumlah populasi orang yang lahir tahun kabisat di Indonesia.

“Kebetulan kan saya guru. Kadang kalau waktu perkenalan dengan siswa baru kan mengungkapkan biodata. Nah bercandaan sama anak-anak (murid) itu biasanya soal umur. Misalnya, umurnya baru enam tahun dong? Atau tahun ini umurnya baru tujuh ya? Saya jadi penasaran soal jumlah orang yang lahir di tahun kabisat ini ada berapa. Saya pikir kira-kira menarik juga ya kalau ada komunitasnya, nanti saya coba buat deh,” kelakarnya.

Hal serupa juga dirasakan Annisa Maghfira Herdiyanti yang pada 29 Februari ini merayakan ulang tahun ke-6, sejak dilahirkan pada1996 silam. Warga Kampung Yosoroto, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan ini mengaku baru sadar jika tanggal lahirnya itu unik saat dia berusia 7 tahun.

Pemahaman itu dia dapat dari pelajaran di sekolah yang membahas soal tahun kabisat maupun dari penjelasan kedua orang tuanya. “Zaman sekolah dulu kan sering saling ngisi buku biodata ke sesama teman cewek kan. Nah, saat itu sudah mulai bisa paham nih soal tanggal ulang tahun yang cuma ada empat tahun sekali ini,” jelas dia.

Sebenarnya tak ada yang begitu berbeda dengan orang-orang lainnya yang tidak lahir di tahun kabisat. Hanya saja jika ditanya soal pengalaman Annisa akan menjawab yang spesial. Yakni ketika perayaan ulang tahun pertamanya saat dia baru berusia empat tahun. Kenangan itu terasa spesial karena perayaan ultah sederhana itu mengundang seluruh keluarga dan tetangga yang sepantaran dengan dia.

“Ultah spesial lainnya saat saya berusia 20 tahun, karena banyak kejutan dari kawan-kawan. Selebihya biasa saja karena bukan orang yang suka merayakan ulang tahun,” kenang Annisa.

Mayoritas kawannya memberikan selamat bertambah usia pada 28 Februari sesuai pemberitahuan yang muncul di akun media sosialnya. Meski demikian, sejumlah kawan dekat biasa memberikan ucapan pada 1 Maret atau setelahnya karena sudah pasti usianya bertambah setelah tanggal tersebut.

“Ada satu kawan yang sampai sekarang sering bilang saya masih kecil. Kadang saya juga sering bercanda ke orang-orang kalau ditanya umurnya berapa. Misalnya kalau tahun ini saya jawab baru 6 tahun,” kelakar dia.

Seiring bertambahnya kedewasaan, Annisa makin terbiasa menyikapi tanggal lahir yang hanya muncul tiap empat tahun sekali itu. Meski dulu sempat berpikir kalau dia orang yang spesial karena lahir pada 29 Februari. “Dulu sempat bertanya ke bapak-ibu soal tanggal lahir yang 4 tahun sekali. Soalnya kata orang tua saya lahirnya caesar. Jadi sempat penasaran apa disengaja atau tidak nih proses kelahirannya. Ternyata kata orang tua memang tidak disengaja karena dulu ibu saya kontraksinya sampai 12 jam dan akhirnya harus operasi. “Ya kalau bercanda sama orang tua biasanya saya bilang kenapa enggak menunggu 3 jam biar keluarnya 1 Maret sekalian,” kelakar Annisa.

Febri Mega Puspitasari pun mengalami hal yang sama. Gadis yang lahir 29 Februari 2000 ini merasa senang dan susah memiliki tanggal lahir langka. “Campur aduk rasanya. Kalau senangnya itu ketika ditanya tanggal lahir, terus banyak yang bilang aku limited edition,” jelasnya.

Namun, dia malah merasa susah ketika melihat temannya berulang tahun. Febri mengaku sedikit iri, sebab tidak setiap tahun dia bisa berulang tahun. Meskipun begitu, dia tetap mengucapkan selamat dan mendoakan temannya yang berulang tahun. Dia juga tetap bersyukur, pasalnya dia merasa sangat jarang ada orang yang lahir di 29 Februari.

Kejadian tidak mengenakan dialami Nensiana Anggun Pratiwi. Memiliki tanggal lahir 29 Februari, membuat dia sempat kesulitan saat membuat surat izin mengemudi (SIM). “Sempat debat sama polisinya. Ditanya apa benar lahir 29 Februari, ya saya jawab beneran,” jelasnya.

Menurut penyuka bakso ini, hal tersebut terjadi karena ketika mengisi formulir data diri 29 Februari tidak ditemukan dan sampai beberapa kali dicoba hasilnya nihil. Sebab itu, akhirnya tercetaklah 28 Februari sebagai tanggal lahirnya. “Biasanya mereka baru percaya setelah saya lihatkan KTP saja,” ujarnya. (ves/rm2/bun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.